Menurut Kantor Berita ABNA, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei dalam pidatonya di hadapan ribuan orang dalam peringatan gerakan perlawanan bersejarah warga Qom pada 19 Dey 1356 (9 Januari 1978) di kota Tehran, ibukota Republik Islam Iran mengingatkan agar umat Islam khususnya Iran untuk memiliki kemampuan mengenal musuh.
Ayatullah Sayid Ali Khamanei berkata, "Sekarang kewajiban kita dalam masalah ini, apa?. Mengenal musuh. Jangan salah dalam mengenal musuh. Jangan bilang, kami sudah tahu siapa musuh, bahwa musuh kita AS, bahwa musuh adalah Zionis. Tapi bukan sebatas itu. Hati-hati dengan hoax, dengan informasi-informasi yang menyesatkan. Mengenal musuh sangat penting. Bahwa musuh ingin apa dan akan melakukan apa. Kenali program dan target-target musuh. Dan bagaimana cara menghadapi musuh."
"Semua hal tersebut semua penting. Republik Islam Iran tidak bisa apa-apa tanpa dukungan dari rakyat. Jadi rakyat harus mengetahui semua ini." Lanjutnya.
Pemimpin tertinggi Iran ini lebih lanjut menambahkan, "Musuh kita AS, rezim Zionis dan semua perangkat yang menguatkan musuh-musuh ini, korporat, kompani dan lain-lain. Sementara yang memusuhi Iran diluar tiga ini, tidak kita hitung sebagai musuh. Jadi jangan salah mengenal musuh."
Pidato ini menjadi statemen pertama Rahbar setelah Iran melancarkan pembalasan terhadap aksi teroris AS kepada Letnan Jenderal Qasem Soleimani, Komandan Brigade Quds Korp Garda Revolusi Islam Iran.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) membalas aksi teroris AS terhadap Letnan Jenderal Qasem Soleimani dengan menembakkan puluhan rudal ke arah pangkalan militer AS di Al-Anbar Irak.
IRGC Rabu pagi (8/1) mengumumkan dimulainya serangan balasan terhadap aksi terorisme AS dalam "Operasi Syahid Soleimani" di bawah kode "Ya Zahra" dengan menembakkan puluhan rudal darat-ke-darat yang menargetkan pangkalan militer Ain al-Asad' di provinsi Anbar, Irak.
Letjen Qasem Soleimani, Komandan brigade Quds, Korp Garda Revolusi Islam Iran dan Abu Mahdi Al-Muhandis bersama delapan orang lainnya gugur dalam serangan udara AS di bandara internasional Baghdad.